Apel Pagi ASN Kemenag Ponorogo: Memaknai 1 Muharam/1 Suro sebagai Momentum Hijrah dan Evaluasi Diri

Ponorogo – Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo mengikuti apel pagi dengan penuh khidmat di halaman kantor. Kegiatan apel tersebut menjadi momentum untuk memperkuat semangat kedisiplinan sekaligus mengambil hikmah dari pergantian tahun baru Islam 1 Muharam yang beriringan dengan kearifan lokal budaya Jawa yang dikenal sebagai 1 Suro.

Bertindak sebagai pembina apel, Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (Kasi PAIS) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo, Mahmud, M.Pd.I., menyampaikan amanat yang mengajak seluruh ASN untuk memaknai 1 Muharam/1 Suro bukan sekadar pergantian kalender, tetapi sebagai momentum refleksi spiritual yang sarat nilai.

Dalam amanatnya, Mahmud menyampaikan bahwa 1 Muharam memiliki makna mendalam yang mempertemukan kesakralan spiritual Islam dengan keheningan tradisi leluhur Jawa. Momentum ini menjadi pengingat bagi setiap insan untuk melakukan perbaikan diri dan meningkatkan kualitas kehidupan.

“1 Muharam atau yang dalam budaya Jawa dikenal dengan 1 Suro bukan hanya tentang pergantian waktu, tetapi menjadi saat yang tepat untuk merenungkan perjalanan diri, memperbaiki kekurangan, dan menata langkah ke arah yang lebih baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Mahmud menyampaikan tiga refleksi yang dapat diambil sebagai hikmah dari momentum 1 Muharam/1 Suro.

Pertama, makna hijrah.
Hijrah dimaknai sebagai perubahan dan perpindahan dari kebiasaan yang kurang baik menuju kebiasaan yang lebih baik. Sebagaimana peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah yang menjadi tonggak perubahan besar dalam sejarah Islam, setiap individu juga perlu melakukan hijrah dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, mengendapkan diri melalui sikap prihatin dan tirakat.
Momentum 1 Muharam/1 Suro mengajarkan pentingnya mengendalikan diri, menjaga ucapan, serta membersihkan lisan dari perkataan yang sia-sia dan tidak memberikan manfaat. Dengan mengendalikan diri, seseorang dapat lebih bijak dalam bersikap dan bertindak.

Ketiga, evaluasi diri.
Mahmud menjelaskan bahwa dalam tradisi Jawa, bulan Suro sering dikaitkan dengan kegiatan membersihkan atau merawat pusaka. Secara metafora, pusaka sejati yang dimiliki manusia adalah lisan dan pikiran. Oleh karena itu, momentum ini menjadi kesempatan untuk membersihkan “karat” dalam diri berupa kebencian, iri hati, dendam, dan ego, sehingga hati menjadi lebih jernih dalam melihat kebenaran.

Melalui apel pagi tersebut, ASN Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo diajak untuk menjadikan nilai-nilai 1 Muharam/1 Suro sebagai inspirasi dalam meningkatkan integritas, profesionalitas, serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Semoga momentum pergantian tahun Islam ini menjadi awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik, penuh tanggung jawab, dan membawa keberkahan dalam setiap langkah,” pungkas Mahmud.