Ponorogo — Kajian Ramadan edisi ke-3 kembali digelar dengan penuh khidmat. Pada kesempatan kali ini, hadir sebagai pemateri Kasi. Pendam., Dr. Nastain, M.Pd., yang menyampaikan materi bertema Zona Integritas (ZI) dengan penekanan pada dua kunci utama: bersih dan melayani.
Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa pembangunan Zona Integritas bukan sekadar program administratif, tetapi merupakan komitmen moral dan spiritual yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Prinsip integritas, menurutnya, telah lama diajarkan dalam sejarah dan keteladanan para tokoh Islam.
Keteladanan Umar bin Khattab
Dr. Nastain mengisahkan hikayat tentang Khalifah Umar bin Khattab yang suatu malam berkeliling memantau keadaan rakyatnya. Dalam perjalanannya, beliau mendengar percakapan antara seorang ibu dan anak perempuannya. Sang ibu meminta anaknya mencampur susu dengan air agar jumlahnya bertambah. Namun sang anak menolak, dengan alasan meskipun Umar tidak melihat, Allah Maha Melihat.
Mendengar percakapan itu, Umar menandai rumah tersebut. Beberapa tahun kemudian, beliau menikahkan putranya dengan gadis tersebut karena mengetahui integritas dan kejujurannya yang luar biasa. Kisah ini menjadi bukti bahwa integritas akan mengangkat derajat seseorang.
Kisah Integritas Abdullah bin Mubarak
Kisah kedua adalah tentang sahabat Nabi yang dikenal saleh dan berintegritas tinggi, yaitu Abdullah bin Mubarak. Diceritakan bahwa ayah beliau bekerja sebagai penjaga kebun kurma selama 12 tahun. Selama itu pula, sang ayah tidak pernah mencicipi satu pun kurma yang dijaganya tanpa izin pemiliknya.
Integritas yang dijaga dengan penuh kehati-hatian tersebut menjadi pondasi lahirnya generasi yang alim dan bertakwa. Dari kisah ini, jamaah diajak untuk menjaga amanah sekecil apa pun, karena dari situlah keberkahan hidup bermula.
Pemuda dan Delima: Mencari Kehalalan
Cerita ketiga yang disampaikan adalah tentang seorang pemuda yang menemukan buah delima hanyut di sungai. Karena takut memakan sesuatu yang bukan haknya, ia menyusuri aliran sungai untuk menemukan pemiliknya dan meminta kehalalan atas buah tersebut.
Setelah bertemu pemiliknya, ia diberi syarat agar menikahi putri sang pemilik yang disebutkan buta, tuli, tidak memiliki tangan dan kaki. Dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab, pemuda itu menyanggupi. Namun saat hari pernikahan tiba, ternyata sang gadis adalah perempuan yang sempurna fisiknya.
Makna dari syarat tersebut dijelaskan:
- “Buta” karena tidak pernah melihat hal maksiat.
- “Tuli” karena tidak pernah mendengar keburukan.
- “Bisu” karena tidak pernah berkata dusta.
- “Tidak bertangan” karena tidak pernah mencuri.
- “Tidak berkaki” karena tidak pernah melangkah ke tempat maksiat.
Kisah ini menegaskan bahwa menjaga kehalalan makanan dan integritas diri akan melahirkan keberkahan yang luar biasa.
Integritas sebagai Pilar Zona Integritas
Menutup kajiannya, Dr. Nastain menegaskan bahwa tiga kisah tersebut mengajarkan pentingnya menghalalkan apa yang kita makan, menjaga amanah, dan menanamkan integritas dalam setiap aspek kehidupan. Zona Integritas bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku bersih dari korupsi, jujur dalam tugas, serta melayani masyarakat dengan sepenuh hati.
Kajian Ramadan edisi ke-3 ini diharapkan mampu memperkuat komitmen seluruh peserta untuk menjadikan nilai integritas sebagai budaya kerja sekaligus ibadah, sehingga terwujud pribadi dan institusi yang bersih, profesional, dan melayani.





