Ponorogo — Kamis, 26 Februari 2026. Kajian Ramadhan edisi ke-2 yang digelar hari ini berlangsung penuh khidmat dan sarat makna. Bertindak sebagai pemateri, H. Marjuni, M.Pd., Kepala Kementerian Haji dan Umroh, menyampaikan tausiyah yang bersumber dari kitab klasik Nashoihul Ibad, khususnya membahas sebuah atsar (perkataan sahabat) yang dinukil dari Ali bin Abi Thalib.
Dalam penyampaiannya, beliau mengutip ungkapan Sayyidina Ali:
“Seandainya tidak ada lima perkara di bawah ini, niscaya manusia akan menjadi orang-orang yang sholeh.”
Kelima perkara tersebut menjadi bahan renungan mendalam bagi jamaah, khususnya para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang turut hadir dalam kajian.
1. Al-Qana’ah bil Jahli (Merasa Cukup dengan Kebodohan)
Sifat merasa cukup dengan kebodohan merupakan sikap tercela. Padahal, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Allah SWT berfirman bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.
H. Marjuni menegaskan bahwa dalam konteks ASN, peningkatan kompetensi adalah sebuah keharusan. ASN tidak boleh merasa cukup dengan pengetahuan yang ada, melainkan harus terus belajar dan berkembang demi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
2. Al-Hirsu ‘alad Dunya (Tamak terhadap Dunia)
Sikap materialistik dan kecintaan berlebihan terhadap dunia menjadi penghalang keshalihan. Dalam pelayanan publik, seorang ASN tidak boleh mengharap imbalan atau keuntungan pribadi dari tugas yang dijalankan.
“Pelayanan adalah amanah, bukan ladang untuk mencari keuntungan,” tegas beliau.
3. As-Sukhu bil Fadhl (Kikir terhadap Kelebihan)
Seseorang yang memiliki kelebihan—baik ilmu, harta, maupun jabatan—hendaknya tidak bersikap kikir. Tidak harus berlebihan dalam memberi, tetapi juga jangan sampai bakhil terhadap potensi dan nikmat yang telah Allah titipkan.
4. Ar-Riya’ bil ‘Amal (Sombong karena Amal)
Amal kebaikan yang disertai riya’ atau kesombongan akan menghapus nilai di sisi Allah SWT. H. Marjuni mengingatkan bahwa Allah tidak menerima amal yang tercampur dengan riya’. Oleh karena itu, keikhlasan menjadi kunci utama diterimanya setiap ibadah dan kebaikan.
5. Al-I’jab bi Ra’yihi (Merasa Paling Benar Pendapatnya)
Sikap merasa paling benar dan paling bagus pendapatnya sendiri juga termasuk penyakit hati yang berbahaya. Sifat ini dapat merusak ukhuwah dan menutup pintu musyawarah. Padahal, Islam mengajarkan sikap tawadhu’ dan keterbukaan terhadap nasihat.
Di akhir kajian, H. Marjuni, M.Pd. mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum membersihkan hati dari lima sifat tersebut. Dengan meninggalkan penyakit-penyakit hati itu, diharapkan setiap pribadi mampu tumbuh menjadi insan yang lebih sholeh, profesional, dan amanah dalam menjalankan tugas serta pengabdian.



